DFACTONEWS.COM.MINAHASA – Pemerintah Kabupaten Minahasa mulai memperkuat langkah mitigasi bencana dengan menyusun Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB). Penyusunan dokumen tersebut diawali melalui sosialisasi yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minahasa, Senin (14/9/2026).
Kegiatan ini menghadirkan ahli manajemen bencana sekaligus Ketua Tim Penyusunan Dokumen Risiko Bencana dari CV GeoArt Science, Galih Arieswastanto. Ia menegaskan, kajian tersebut menjadi pijakan awal untuk memetakan secara spasial wilayah rawan bencana, termasuk tingkat ancaman, jumlah penduduk terdampak, potensi kerugian ekonomi hingga kondisi kesehatan masyarakat.
“Dokumen ini adalah langkah awal untuk mengidentifikasi daerah-daerah rawan bencana secara spasial dengan teknologi pemetaan yang ada. Nantinya menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, terutama terkait kebencanaan dan pembangunan,” ujar Galih.
Dalam kajian tersebut, sedikitnya 11 jenis ancaman bencana akan dipetakan di wilayah Minahasa, termasuk ancaman dari sembilan gunung api, tiga di antaranya masih aktif dan lainnya berstatus dorman. Penyusunan dokumen ditargetkan rampung sekitar empat bulan sebelum diekspose bersama kepala daerah dan para pemangku kepentingan untuk selanjutnya menjadi dasar penetapan kebijakan.
Sekretaris BPBD Minahasa, Merel Sumaraw, mengatakan konsultan akan turun langsung ke lapangan untuk melakukan verifikasi data di seluruh desa, mulai dari ancaman dan kerentanan hingga kapasitas masyarakat menghadapi bencana. Menurutnya, hasil kajian juga akan menjadi acuan dalam penataan ruang dan berbagai dokumen kebencanaan lainnya. “Tujuan utama penanggulangan bencana adalah pengurangan risiko bencana. Sebagai pemerintah daerah, kita memiliki tanggung jawab memberikan rasa aman dan perlindungan kepada masyarakat,” tegasnya.(ARA)
















