DFACTONEWS.COM,Tondano – Komitmen Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tondano dalam menjalankan pembinaan produktif kembali membuahkan hasil. Melalui program pembinaan kemandirian di bidang pertanian, Lapas Tondano sukses melaksanakan panen padi tahap pertama, Senin (14/4), yang menjadi simbol nyata kontribusi pemasyarakatan terhadap ketahanan pangan nasional.
Panen ini bukan sekadar hasil pertanian, melainkan buah kerja keras para warga binaan yang selama empat bulan terakhir mengolah lahan dengan penuh disiplin dan semangat. Didampingi petugas pembinaan, para warga binaan menunjukkan bahwa masa hukuman bukanlah akhir dari produktivitas.
Program pertanian ini digelar sebagai bagian dari implementasi Asta Cita Presiden RI dan 13 Program Akselerasi Menteri Hukum dan HAM bidang Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. Dengan menyatukan semangat kemandirian dan pembinaan berkelanjutan, Lapas Tondano berhasil mencetak prestasi yang tak hanya berdampak bagi warga binaan, tetapi juga lingkungan sekitar.
Rocky Wajong, Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Kegiatan Kerja (Binapi Giatja), mewakili Kalapas Tondano Akhmad Sobirin Soleh, menyampaikan bahwa pertanian ini adalah media pembinaan sekaligus bekal keterampilan untuk kehidupan pasca-pemasyarakatan.
“Panen ini membuktikan bahwa pembinaan berbasis kerja nyata dapat menghasilkan manfaat konkret. Warga binaan kami dilatih agar mandiri, dan hasil pertanian ini adalah tonggak awal yang membanggakan,” ujar Rocky.
Lahan pertanian yang digunakan berada di area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), memanfaatkan lahan tidur yang disulap menjadi sawah produktif. Meski menggunakan teknik budidaya sederhana, hasil panen tetap berkualitas dan memiliki potensi untuk dikembangkan.
“Kami menargetkan perluasan lahan dan diversifikasi komoditas. Bukan hanya padi, ke depan kita akan garap sayuran, hortikultura, bahkan peternakan kecil. Lapas Tondano siap jadi percontohan nasional,” tambah Rocky penuh optimisme.
Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar. Banyak yang mengapresiasi pendekatan humanis dan produktif yang dijalankan Lapas Tondano. Mereka melihat langsung bahwa proses pemasyarakatan bukan hanya soal hukuman, tapi juga pembinaan karakter dan pemberdayaan ekonomi.
Dengan panen perdana ini, Lapas Tondano membuktikan bahwa perubahan itu mungkin terjadi, bahkan dari balik jeruji. Semangat kerja keras, kolaborasi, dan visi besar menjadikan Lapas Tondano bukan hanya institusi pemasyarakatan, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial.(ara)
