DFACTONEWS.COM,Manado — Tidak semua pemain muda berani mengambil langkah untuk keluar dari zona nyaman demi proses yang lebih besar. Namun, bagi Yoel Taniowas, keputusan bergabung dengan Persma 1960 Manado adalah bagian dari perjalanan panjang yang ia yakini sebagai jalan menuju masa depan.
Lahir pada 2003, Yoel tumbuh di lingkungan yang akrab dengan lapangan sepak bola. Kompleks Lapang Manguni Sasaran Tondano menjadi saksi awal bagaimana kecintaannya terhadap si kulit bundar terbentuk. Dari sana, karakter permainan Yoel ditempa—keras dalam duel, disiplin dalam posisi, dan tak pernah ragu membantu serangan dari sisi kiri pertahanan.

Sebagai seorang bek kiri, Yoel memahami bahwa perannya bukan sekadar bertahan. Sepak bola modern menuntut pemain sayap bertahan memiliki stamina prima, visi bermain, serta keberanian mengambil keputusan cepat. Karakter inilah yang terus ia asah dari hari ke hari.
Sebelum berseragam Persma Manado, Yoel lebih dulu memperkuat Persmin Minahasa. Di sana, ia mendapat pengalaman kompetitif yang membentuk mental bertandingnya. Jam terbang yang diperoleh menjadi fondasi penting sebelum akhirnya ia memilih Persma sebagai tempat mengembangkan kualitas permainan ke level yang lebih tinggi.
Keputusan itu bukan tanpa alasan. Di Persma, Yoel mendapatkan kesempatan emas berlatih bersama para pemain senior berpengalaman, termasuk Ferdinan Sinaga, sosok yang pernah merasakan atmosfer sepak bola nasional dan membela Tim Nasional Indonesia. Bagi Yoel, keberadaan figur seperti Ferdinan bukan hanya menambah kualitas latihan, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran tentang profesionalisme dan mental juara.
“Bisa berlatih bersama pemain yang pernah membela tim nasional adalah pengalaman yang sangat berharga. Banyak hal yang bisa dipelajari, terutama soal disiplin dan mental bertanding,” ungkap Yoel.
Di luar lapangan, Yoel dikenal sebagai pribadi tenang dan fokus. Ia juga menyeimbangkan karier sepak bolanya dengan pendidikan sebagai mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima). Baginya, pendidikan dan sepak bola berjalan beriringan sebagai bekal masa depan.
Semangatnya semakin kuat karena terinspirasi oleh kakak sepupunya, Eksel Runtukahu, yang kini berkiprah di Liga 1 bersama Persija Jakarta. Sosok tersebut menjadi bukti nyata bahwa pemain asal Sulawesi Utara mampu bersaing di level tertinggi sepak bola nasional.
Namun Yoel sadar, mimpi besar hanya bisa dicapai lewat proses panjang. Tidak ada jalan instan. Setiap latihan, setiap pertandingan, dan setiap arahan pelatih adalah bagian dari pembentukan dirinya.
Bersama Persma Manado yang tengah bersiap menghadapi Liga 4 Sulawesi Utara, Yoel menatap musim dengan tekad kuat. Ia ingin memberi kontribusi nyata bagi tim sekaligus membuktikan bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil.
Bagi Yoel Taniowas, perjalanan ini baru dimulai. Dari Manguni, dari Tondano, ia sedang menapaki langkah demi langkah menuju panggung yang lebih besar. Dan jika konsistensi serta mental baja terus ia jaga, bukan tidak mungkin namanya kelak ikut menghiasi level kompetisi yang lebih tinggi di sepak bola Indonesia.(Ara)












