DFACTONEWS COM MITRA-Peristiwa bentrokan antarwarga yang terjadi antara Desa Molompar dan Desa Watuliney, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara, pada 30/11/2025, mendapat tanggapan dari kalangan aktivis pemuda.

Mereka menyerukan masyarakat untuk menjaga kerukunan dan menghindari provokasi berbasis agama.
Donal Tuda, S.Pd., seorang Aktivis Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Minahasa Tenggara, menyampaikan keprihatinannya atas insiden tersebut dan menegaskan pentingnya kearifan dalam menyikapi konflik.
Donal Tuda meminta semua pihak untuk menahan diri dan menyerahkan penyelesaian masalah ini kepada pihak berwenang.
“Kita jangan mudah terprovokasi, ada kita percayakan semuanya kepada Aparat Kepolisian Resor Minahasa Tenggara,” ujar Donal.
Ia menekankan agar insiden ini disikapi sebagai masalah hukum dan bukan sebagai isu SARA. Ia menduga pertikaian tersebut memiliki pemicu di luar konteks agama dan kemungkinan dipicu oleh
“pergumulan dari luar atau kegiatan-kegiatan yang berikan dari luar.”
“Intinya cari saja yang pelaku dan di tindak secara hukum,” tegasnya,
seraya menambahkan bahwa masyarakat harus membiarkan pemerintah, termasuk kepolisian, untuk mengawal dan mendalami kasus ini.
Aktivis GAMKI ini menyoroti peran penting antar umat beragama untuk saling menjaga dan menghormati setiap perbedaan yang ada.
Menurutnya, Sulawesi Utara telah lama dikenal dengan semboyan “Si Tou Timou Tumou Tou” (manusia hidup menghidupkan orang lain), yang harus tetap dijaga.
“Hendaknya kita jaga bersama rasa kekeluargaan ini, jangan mudah terpancing dengan isu Agama karena sejatinya setiap Agama mengajarkan hal yang baik bagi umatnya. ‘Torang Samua Basudara’ hendaknya jadi slogan yang tetap dibawa sampai selamanya,” serunya.
Donal Tuda mengingatkan bahwa setiap masalah pasti ada solusinya, dan masyarakat harus berhati-hati agar tidak mudah terpengaruh dengan isu-isu yang beredar.
Menjelang perayaan Kelahiran Yesus Kristus (Natal), Donal Tuda melihat ini sebagai momentum yang indah, di mana makna Kasih harus diwujudkan dalam kehidupan.
Dalam upaya menjaga kerukunan, ia menekankan pentingnya peran FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) dan Para Tokoh Agama – termasuk Rohaniawan, Pendeta, Gembala, Pastor, Imam, dan Ustadz – untuk memberikan Pengajaran yang sehat yang mengedepankan nilai-nilai perdamaian.
Tak ketinggalan, ia juga mengapresiasi dan mengharapkan peran aktif Pemerintah dan Instansi terkait lainnya, seperti Polisi dan TNI, dalam menjamin kenyamanan dan keamanan setiap warga negara Indonesia. (mp)












